Friday, July 6, 2007
Cerita ajaib tentang masa depan
Anjing Penjaga tersebut dipelihara oleh seorang majikan yang hidup sangat berkecukupan. Makan dan minumnya semua disediakan, tempat tinggal yang terbebas dari hujan dan hewan liar lain, bahkan jika sakit diberikan perawatan.
Tibalah suatu siang dimana Anjing Penjaga dikunjungi oleh temannya Srigala. Si Anjing Penjaga tersebut sangat senang bertemu dengan temannya. Si Anjing berkata, "Lama kita tidak berjumpa. Bagaimana kabarmu saat ini?" . Srigala melihat kedalam piring makan Anjing Penjaga dan berkata, "Cukup baik, hanya saja beberapa hari terkhir ini saya tidak begitu mujur, sehingga tidak mendapatkan cukup buruan.". Mereka bercakap - cakap cukup lama, sekaligus melepas kangen dengan sahabat lama. Tak terasa waktu telah menjelang sore, kemudian Srigala berkata, "Saya harus segera pulang dan mempersiapkan diri untuk berburu.". Anjing Penjaga pun menanggapinya dengan senyum, "Srigala kenapa harus susah + susah mencari buruan, kamu dapat tinggal disini dan menikmati hidupmu. Dan kamu tidak perlu sungkan, karena kebetulan majikan ku butuh Anjing Penjaga tambahan. Rumahnya kini bertambah besar dan sepertinya akan terus bertambah besar.". Srigala diam mendengar tanggapan sahabatnya dan berkata, "Anjing Penjaga, Terima kasih, tapi saya tidak bisa menerima ajakanmu.".
Kemudian Anjing Penjaga kaget dan spontan menanggapi Srigala, "Kenapa? Bukannya ditempat ini kamu tidak perlu berburu, sehingga kamu aman dari kelaparan. Tidak perlu takut kehujanan, kedinginan dan hewan liar lainnya.". Srigala menjawab sahabatnya dengan tegas, "Anjing Penjaga sahabatku, andai aku menerima tawaranmu, dan akan tiba saat dimana saya tidak lagi berguna bagi majikanmu, kemudian saya tidak mendapatkan lagi semua keamanan itu, dan yang terburuk saya tidak memiliki kemampuan berburu lagi. Lalu apa yang harus saya lakukan? Sebelum saat ini, sekarang dan masa yang akan datang, saya akan tetap berburu demi kelangsungan hidup tanpa mengantungkan nasibku ditangan siapa pun."
SiAnjing Penjaga membalasnya, "Baik lah kalau begitu, keputusan ada ditanganmu sendiri. Semoga kamu dapat berbahagia dan sejahtera dengan pilihanmu. Hanya saja jika kau sudah bosan akan kehidupan berburumu, saya tetap meminta majikan saya memberikan kesempatan kepadamu."
Srigala tersenyum seolah dia sangat bahagia memiliki seorang sahabat yang sangat baik terhadapnya. Srigala kemudian berkata sebelum dia harus meninggalkan Anjing Penjaga, "Anjing Penjaga, kamulah sahabat terbaikku didunia ini. Aku hanya dapat berpesan kepadamu, bahwa ada baiknya kamu tetap mempertahankan naluri berburumu, andai + andai majikanmu sudah tidak membutuhkanmu lagi. Ingat diri kita adalah hasil dari pilihan yang kita buat. Sampai jumpa, dan pada kesempatan lain saya akan mengunjungimu lagi. "
Anjing Penjagapun diam memikirikan kata + kata sahabatnya, dan Srigala sahabatnya telah berjalan cukup jauh meninggalkan dirinya.
Cerita ini adalah sebuah cerita didalam cerita. Bacalah sebanyak yang Anda butuhkan. Kunci cerita akan membuka kejelasan baru dalam hidup Anda. Semakin jelas Anda melihat, semakin banyak yang akan Anda dapatkan.
Oleh: Santo S S.Kom
Karya Terilhami yang sedang dalam proses
Monday, June 11, 2007
Ingin Kaya? Jangan Jadi Karyawan
Jangankan Kris Dayanti, Tasya dan Joshua -- dua bocah cilik Indonesia yang masih SD -- pun sudah mampu menghasilkan duit ratusan juta bahkan miliaran rupiah. Sejarah wirausaha (entrepreneur) juga mencatat, banyak pengusaha bahkan konglomerat Indonesia yang sukses membangun imperium bisnis mereka meski pendidikannya hanya SMP bahkan SD.
Mungkin tak perlu terlalu banyak mencari contoh orang lain. Kalau saja saya dulu memilih menamatkan kuliah saya di Universitas Gadjah Mada, hampir pasti saya tak akan berani memulai bisnis Bimbingan Belajar Primagama, yang kini berubah menjadi holding company beromset di atas seratus miliar rupiah.
Meski dulu saya belum membaca buku laris Robert Kiyosaki, If You Want to Be Rich and Happy, Don`t Go to School?, saya sudah sadar bahwa pintar dan dapat ranking di sekolah tidak menjamin seseorang akan sukses dan kaya-raya.
Saya bahkan punya keyakinan, semakin lama seseorang sekolah, semakin tidak kreatiflah dia. Karenanya, semakin takut pula dia mengambil risiko -- sikap penting yang amat diperlukan bila seseorang ingin sukses menjadi wirausaha.
Dan, saat ini, menjadi business owner adalah jalan kongkret menjadi kaya-raya. Lewat pekerjaan yang ditekuni bertahun-tahun, akhirnya seseorang umumnya ingin hidup makmur dan terjamin masa depannya. Istilah gampangnya, hidup kaya-raya.
Namun, tak banyak orang yang menyadari bahwa sejak masuk kuliah sebenarnya seseorang telah menyiapkan dirinya hidup miskin. Contoh ekstremnya, kalau seseorang sejak muda bercita-cita menjadi guru, jangan harap di usia pensiunnya dia bisa membeli Mercy terbaru dan tinggal di perumahan elite. Demikian juga, bidan atau perawat rumah sakit mustahil mampu mengkredit Toyota Kijang LGX di usia pensiunnya. Lain ceritanya kalau dia memiliki jiwa wirausaha, sehingga dengan keahliannya dia mendirikan klinik atau rumah bersalin di rumah, yang bisa dikelola bersama kolega bidan lain.
Salah satu contoh yang berhasil mengembangkan cara serupa adalah Grup RS Hermina di Jakarta. Memang, cukup banyak bidan berjiwa wirausaha yang berani mengelola usaha rumah bersalin seusai berdinas di rumah sakit. Setelah berkembang menjadi klinik dan rumah bersalin besar, mereka pun membeli tanah di tempat lain untuk mengembangkan usahanya. Dengan begitu, BMW atau Mercy pun bisa dibelinya dengan mudah.
Banyak pula orang yang terbuai oleh sukses semu selama bertahun-tahun menjadi karyawan. Kalau kita menjadi manajer pemasaran bank dan suatu ketika berhasil memasarkan produk tertentu, pastilah kita berharap mendapatkan kenaikan gaji dari sukses itu. Ketika itu didapat, kita merasa kerja kita berhasil. Padahal, keuntungan atau bertambahnya kekayaan sang pemilik bank jauh berlipat dari kenaikan gaji yang diberikan kepada karyawan yang bekerja pada bank miliknya. Siapa yang lebih untung dan lebih kaya: karyawan yang punya ide pemasaran yang cemerlang, ataukah pemilik bank yang pasif dan mampu membayar lebih mahal kepada karyawan yang kreatif untuk mengelola untungnya menjadi berlipat? Jelas pemilik bank yang lebih banyak diuntungkan.
Jadi, mengapa mesti bertahan jadi karyawan? Bisnis kadang bisa dimulai dari kesadaran akan potensi diri sendiri.
Sayangnya, tak banyak orang menyadarinya. Untuk memulai bisnis, seorang ahli farmasi, misalnya, sering kali tak menyadari bahwa keahliannya adalah modal utama memulai bisnis. Sebab, mindset ahli farmasi tersebut adalah long life to be an employee. Maka, ketika suatu saat ia berhasil menemukan ramuan obat antikanker, dia memilih menjual paten penemuannya kepada pabrik farmasi besar. Sang ahli farmasi hanya menerima royalti tanpa pernah tahu persis keuntungan bersih yang tentu saja jauh lebih besar dibanding royalti yang diberikan kepadanya. Padahal, kalau saja sang penemu memilih mencari mitra bisnis yang mau membiayai penemuannya agar menjadi bisnis farmasi yang besar dan menguntungan, tentu kehidupannya jauh lebih kaya. Dengan bekal cetak biru penelitiannya yang profitable, tak sulit sebenarnya sang penemu mendapatkan mitra bisnis yang mau membantu permodalan bisnisnya. Investor tentu semakin percaya karena uangnya dikelola oleh orang yang tepat. Dan yang pasti, sang ahli bisa menjadi pemilik bisnis sembari terus mengembangkan penelitian lain sambil menghitung keuntungan bisnis yang dikelolanya sendiri. Bahkan, suatu saat ia bisa membayar ahli lain yang lebih hebat darinya untuk mengembangkan bisnis farmasinya.
Ini hanya satu contoh. Masih ada jutaan peluang yang sayang kalau keliru dilihat kemungkinannya mengubah nasib Anda. Jadi, sekali lagi, jangan terlalu lama menjadi karyawan. Mulailah mewujudkan mimpi Anda menemukan jalan menjadi pengusaha yang mapan secara finansial. Yakinlah, jutaan peluang bisnis selalu tersedia. Lihatlah peluang yang belum dikerjakan orang lain.
Kita tahu, misalnya, begitu banyak orang yang menjual wedang jahe, dari pasar becek hingga kaki lima. Tugas wirausaha adalah, bagaimana membuat wedang jahe mampu mendatangkan uang ratusan juta atau bahkan miliaran rupiah. Itu yang perlu kita cari tahu dan mencobanya. Atau, silakan nekat terus menjadi karyawan, niscaya Anda akan menyesali saat pensiun nanti.
------------------------------------------------
Penulis adalah Presiden Direktur Grup Primagama, juga Pengelola dan Mentor Utama Entrepreneur University.
Mencintai Pekerjaan
Love Your Work Mon, 22 Dec 2003 10:14:00 WIB
Siapa pun bisa menjadi kaya, asalkan tahu caranya menuju ke sana, tepat waktunya, dan tahu apa yang diinginkan. Jadi, jangan pesimistis terhadap keyakinan bahwa seseorang bisa menjadi kaya karena memang sudah 'bawaan' dari lahir, dan ditakdirkan untuk selalu mendapatkan banyak hoki.
Roger Hamilton meyakini hal itu. Penulis buku laris di Singapura dan Hong Kong berjudul Wink and Grow Rich memberikan contohnya. Ketika dua perempuan bersaudara kembar melakukan pilihan berbeda dalam menelusuri kariernya, keduanya sama-sama punya hobi melukis.
Kembar pertama saat usianya 20 tahun memilih bekerja di perusahaan. Dari gaji yang diperoleh selama bekerja, kemudian ditabung dalam bentuk properti. Setelah usia 40 tahun dia mengajukan pensiun dini. Saat umurnya 45 tahun, dia baru terpikir untuk menggeluti dunia seni lukis. Dan ketika usianya 60 tahun dia meninggal.
Sedangkan untuk kembar yang kedua, saat usianya 20 tahun makin mendalami kemampuannya untuk melukis. Dia pun aktif untuk mencari pelanggan karya lukisannya, dan tak henti menawarkan lukisannya ke berbagai galeri.
Dari hasil penjualan lukisannya, si kembar yang kedua mampu menumpuk jumlah tabungannya. Dan dia pun meninggal pada usia 60 tahun. "Mana yang menurut Anda lebih baik, kembar yang bekerja dulu baru melukis, atau langsung melukis? "
Sudah pasti yang melukis, karena memang bidang itu lah yang disukai," kata Hamilton.
Namun, katanya, seringkali seseorang tak mengetahui dengan pasti apa sebenarnya pekerjaan yang dia sukai. Jadi dia tidak tahu kapan mesti memulai untuk mendapatkan hasil yang maksimal dari pekerjaan yang disukai tersebut. Hingga pada gilirannya, saat tiba masa pensiun, baru tergagap melihat ke belakang dan menelusuri, selama berkarier apa saja yang dikerjakan?
Bill Gates, kata Hamilton, bisa sukses karena tahu apa yang dia sukai untuk dikerjakan. Dan dia memulai apa yang disukai tersebut lebih awal dari yang lainnya, sehingga mengantarkannya duduk dalam jajaran peringkat atas orang terkaya di dunia dengan Microsoft-nya.
sumber: http://cyberjob.cbn.net.id/cbprtl/common/ptofriend.aspx?x=Love+Your+Work&y=Cyberjob%7C0%7C0%7C2%7C179